Prolog
Life has many ways of testing a person’s will, either by having nothing happen at all or by having everything happen all at once. – Paulo Coelho –
Sekarang malam minggu.
Entah ada berapa malam minggu yang pernah kita lalui sebagai manusia. Tapi, ada malam minggu yang tak akan per nah kita lupakan,dengan momen-momen yang mengubah hidup kita, membuat kita tak pernah sama lagi seperti sebe lumnya. Malam minggu dengan jatuh cinta. Malam minggu dengan putus cinta. Malam minggu dengan pertunangan atau lamaran. Malam minggu dengan perselingkuhan. Ma lam minggu dengan kebahagiaan. Malam minggu dengan ke sedihan. Atau seperti yang kami alami sekarang ini, malam minggu yang penuh dengan kekonyolan.
Kami bertiga takkan pernah melupakan malam minggu ini. Malam minggu dimana kami mengadu nasib untuk me nemukan calon suami idaman dari ajang perjodohan. In formasi dan testimoni yang didapat dari internet tentang biro jodoh ini begitu menjanjikan. Bahkan obrolan yang kami lakukan via telepon dengan humas biro tersebut semakin menguatkan tekad untuk menjajal momen ini. Silakan ter tawakan kami. Benar, kami seputus asa itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 19.30.
Kami melangkah tergesa-gesa sejak turun dari mobil hingga memasuki lobi. Dengan napas terengah-engah,kami menaiki belasan anak tangga menuju ballroom di lantai dua hotel berbintang di selatan Jakarta ini.
Setelah menunjukkan kartu keanggotaan kepada resep sionis yang berjaga di depan ballroom, kami dipersilakan masuk ke ruangan yang sudah ramai dengan peserta lain. Mata kami mencari-cari deretan kursi berdampingan yang bisa kami bertiga duduki. Tapi belum sempat kami me nemukannya, suara MC yang membahana membuat kami terpaku di sudut ruangan.
“Selamat datang di acara paling spektakuler abad ini— WILL YOU MARRY ME? YES, I WILL MARRY YOU. Terima kasih atas kehadiran dan partisipasi Anda sebagai anggota tetap pada acara rutin kami malam ini. Kami pastikan Anda tidak akan pernah menyesal, dan mari kita sambut lajang-lajang paling “hot” abad ini.”
Seorang pria dengan rambut seadanya keluar dari balik panggung. Setelan mahal yang dikenakannya tak mampu me nyembunyikan perutnya yang seperti ibu hamil delapan bu lan. Pria kedua tidak jauh berbeda. Hanya saja dia memakai kacamata tebal. Wajahnya murung, terlihat seperti seseo rang yang menghabiskan hidup memikirkan banyak hal. Pria ketiga sungguh perlente, namun bagi kami, dia lebih pantas jadi ayah dibanding suami.
SIAL! APA-APAAN INI?
Kami bertiga berpandang-pandangan. Tanpa suara, kami sepakat datang ke acara ini adalah keputusan konyol.
“Setelah ini, kami akan memanggil nama-nama yang su dah terdaftar untuk melakukan meet and greet dengan para lajang keren yang sudah kami tampilkan untuk Anda.” “Please, be ready. Fayra, Ully, dan Nina.”
“WHAT?” teriakan kami cukup keras untuk membuat kami bertiga menjadi pusat perhatian.
“Kepada nama-nama yang saya sebutkan barusan, silakan menuju ruangan di sebelah ballroom. Kami sudah menyiapkan romantic dinner untuk Anda. Untuk peserta lainnya, jangan khawatir, masih banyak pria lajang lain menanti di belakang panggung. Kami akan segera memanggilnya untuk Anda.”
“Gue sih enggak mau. Kalau kalian gimana?” bisik Ully sambil menatap kami berdua.
Aku dan Fayra spontan menggeleng kuat-kuat. “NO WAY!”
“So lets’s get out of here.” Ully memberi isyarat agar kami bergegas angkat kaki dari ruangan itu.
***
“Apa sih yang merasuki pikiran kita?”semburku.
Tidak perlu menunggu momen romantic dinner, kami segera angkat kaki dari tempat itu. Kami tidak merasa perlu berbicara lebih dalam ataupun dari hati ke hati dengan para pria yang diajukan biro jodoh tersebut.
“Ya ampun, yang model kayak gitu sih, di kantor kita juga banyak kaleee. Nyesel aku udah bayar mahal-mahal,” komentar Fayra, disambut tawa kami semua.
Kami berjalan berangkulan sembari terbahak-bahak me nuju tempat parkir. Fayra memegangi perutnya dan Ully ber jalan terbungkuk-bungkuk karena tersiksa oleh derai tawa yang heboh, sementara aku berjalan sambil menghapus air mata di pipi.
“Kita menyedihkan sekali, ya,” komentar Ully begitu kami sampai di mobil. “Segitu depresinya kita sama cinta, sampai memutuskan untuk datang ke acara perjodohan kayak gini?” Fayra menyahut komentar Ully dengan sisa tawanya.
“Hahaha... lo liat nggak bapak-bapak yang tadi? Ya ampun, mukanya nepsong banget ngeliatin lo, Ly. Gue yakin kalau lo jadi kawin sama dia, bisa-bisa lo disekap tujuh hari tujuh malam.”
“Busyeeettt... mampus gue. Amit-amit. Tapi gue nggak yakin si Om bakal kuat kalau nggak ditopang Viagra,” Ully menanggapi sambil tertawa.
Setelah tawa kami mereda, keadaan hening sejenak. Fayra yang pertama kali membuka pembicaraan. “Ada miliaran lelaki di dunia ini.”
“Exactly!” tegas Ully.
“Tapi kita malah terpaku pada lelaki yang tidak mau membawa hubungan kita ke mana-mana.” Kusandarkan tubuh di sisi mobil di samping mereka berdua. “Kita bertiga memang menyedihkan. Kita punya segalanya kecuali cinta dan lelaki baik yang mau menikahi kita.”
“Apa sih yang merasuki pikiran kita?” Ully mengulangi pernyataanku.
“Saking putus asanya,” Fayra menimpali.
***
Fayra menyetir sambil bersenandung. Kaca jendela dibuka supaya kami bisa merasakan semilir angin yang membelai kulit. Aku duduk di sampingnya, sementara Ully di belakang. Mataku melirik Fayra yang sibuk dengan rokoknya. Kulihat Ully yang tidak lepas dari gadgetnya melalui kaca spion. Mobil melaju dalam kecepatan sedang. Aku cukup terganggu dengan hawa Jakarta yang lembap, tapi aku lebih terganggu lagi dengan asap rokok Fayra.
“Jadi, mau ke mana kita malam ini?” tanya Ully.
Sejak meninggalkan ballroom Hotel Mulia kami hanya ke luar-masuk dari satu ruas jalan tol ke ruas lainnya.
“Dugem?” Fayra menawarkan.
Aku menggeleng. “Nggak, ah... lagi nggak mood.” “Jadi, kita pulang aja?” tanya Fayra lagi. Ully menyela. “Jangan, dong. Gue bosan.”
Aku menghela napas. Keheningan menyelimuti, kami bertiga sibuk dengan pikiran masing-masing.
“Gimana kalau kita ke Night Bar?” usulku.
Fayra mengangguk. “Boleh juga. Sudah lama kita nggak ke situ.”
“Yeah, few shots of Tequilla would be nice,” sahut Ully.
Beberapa meter di depan, Fayra membelokkan kendara annya ke salah satu bar langganan kami bertiga. Di sana juga ada Abimanyu, sahabat kami.
Senyum ramah Abi di balik meja bar menyambut kami bertiga yang datang dengan wajah kusut.
“Hai, tiga serangkai. Apa yang membuat kalian bertiga sen dirian saja di malam minggu seperti ini?” sapanya hangat, sok formal. Dia lelaki yang sangat menyenangkan dan pendengar yang baik, meski sayangnya tidak menyukai perempuan.
Kami saling melempar pandang. Enggan menjawab pertanyaan itu. Bisakah orang-orang membiarkan tiga perempuan cantik, lajang, hang out bersama tanpa perlu diganggu dengan pertanyaan kenapa mereka tidak menggandeng pasangan masing-masing? We are not lesbians. We can assure that.
Abi, si bartender, sepertinya paham kami tidak ingin men jawab pertanyaan itu. Ia sibuk dengan shaker yang disimbangnya dengan mahir di tangan.
“Dry Martini, please,” pintaku.
Ully mengangkat tangan. “Tequila.”
Fayra sibuk dengan rokoknya dan tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya memesan, “Gue Long Island, deh.” “Wew, Ada masalah apa dengan kalian, girls?”
Abi menyajikan minuman yang kami pesan, lalu mengam bil tempat di hadapan kami. Tempat yang strategis untuk membagi perhatiannya dan menjadi pendengar yang baik bagi kami bertiga. Ia duduk dengan kedua tangan terlipat di meja, lalu mencondongkan badan ke arah kami. Sikap tubuhnya menunjukkan ia siap menjadi teman bicara dan tempat menumpahkan semua unek-unek di hati. A gay is a woman’s best friend, isn’t it?
Fayra yang pertama angkat bicara. “Gue capek pacaran sama Danu. We’re not going anywhere. We’re stuck. Dia terlihat tidak mau berkomitmen. Sementara Bokap udah nuntut gue untuk kawin.”
“Kenapa itu jadi masalah buat lo?” Abi langsung menanggapi curhatan Fayra.
“Jelas masalah lah, Bi!” Fayra menyulut rokoknya yang kesekian. “Dengan penyakit jantungnya, gue takut banget kehilangan Bokap. Gue anak tunggal. Harapan bokap satu-satunya sekarang adalah ngeliat gue nikah.”
“Trus, Danu nggak mau kawin sama lo gitu?”
Fayra menggeleng lemah. “Dia nggak pernah bilang gitu. Dia cuma selalu bilang, masih tunggu waktu yang tepat, belum siap... bla... bla... bla... dia selalu punya alasan untuk menunda.”
“Itu mah nggak masuk akal,” sahut Abi. “Kawin ya kawin aja. Kawin itu harus nekat, kalo mikir kawin enggak, kawin enggak, ya enggak kawin-kawin. Makin tua makin banyak pertimbangan, tau! Makanya orang-orang zaman dulu bilang kawinlah selagi muda.”
“Kayak lo udah kawin aja. Lo sendiri juga masih melajang kan sampe sekarang.” Ully mencibir.
“Kan gue bilang, kata orang-orang zaman dulu, Mpok.” Abi menjawil hidung Ully gemas. “Bukan kata gue.”
“Kawin apa nikah, nih?” tanyaku pura-pura lugu.
Ully memelototiku. “Pertanyaan lo enggak penting banget, sih,”
Aku nyengir kuda. “Ups, sori.”
Tangan Abi dengan lihai menuang minuman tambahan ke gelas kami bertiga. Matanya beralih kepada Ully yang sedari tadi berusaha menggulung kegelisahan dengan memilin-milin rambut ikalnya.
“Kuakui, aku pacaran dengan lelaki brengsek itu sudah bertahun-tahun. Gue pikir gue bisa mengubahnya. Ngebuat dia jadi orang baik. Aku yakin itu. Aku cuma harus lebih sabar aja.”
“Terus apa hasilnya?” tanya Abi.
“Selama dua tahun ini, dia sudah selingkuh sama lima cewek,” kata Ully kesal. Ia menggebrak meja untuk menyalurkan kekesalannya.
Aku dan Fayra diam, hanya mendengarkan pembicaraan antara Ully dan Abi. Kami sudah tahu cerita ini dan tidak pernah berusaha melakukan apa pun untuk mengubahnya. Ully adalah perempuan paling dewasa dan mandiri di antara kami bertiga—kalau dibuat tingkatan persaudaraan seperti di film Kera Sakti, dia adalah kakak pertama—satu-satunya orang yang bisa mengendalikannya adalah Dewi Kwan Im yang malam ini berwujud seorang cowok pecinta sesama jenis bernama Abimanyu. Begitu juga dalam pekerjaan. Ully al ways on top. She’s the boss! Aku dan Fayra selalu menganggap
Ully selalu tahu apa yang harus dilakukannya termasuk mengatasi tunangannya yang tukang selingkuh itu. Ully juga tidak pernah meminta pendapat kami soal ini.
“Apa yang ngebuat lo berpikir bisa mengubahnya?” Fayra mengerjap ke arahku. Aku ingat kami pernah mendiskusikan hal ini berdua saat Ully tidak ada. Kami merasa Ully menyia-nyiakan waktu dengan berusaha mengubah tu nangannya yang brengsek itu.
Ully mengangkat bahu. “Karena gue seorang psikolog. Gue merasa bisa memahaminya, mengendalikannya, dan mengu bahnya. Gue belajar begitu banyak ilmu jiwa dan tertantang untuk bisa membuatnya berhenti dari kebiasaan buruknya. Gue percaya sekali Teori Freud. Kita yang sekarang adalah kita di masa lalu. Gue yakin ada luka jiwa yang Juned rasakan sehingga membuatnya bersikap seperti itu. Luka jiwa itu yang belum gue ketahui. Luka jiwa itu yang belum tersembuhkan. Gue yakin bisa menyembuhkannya, dan Juned bakal berubah menjadi lelaki setia yang hanya memuja gue.”
“Tapi, itu bukan tanggung jawab lo,” Abi menatap Ully de ngan iba.
Ully memandangi kami satu per satu dengan sorot ingin dimengerti.“Gue tahu. Tapi gue mencoba. Memangnya gue sa lah?”
Jemari Abi terulur untuk mengelus pergelangan tangan Ully. “Bagaimana kalau lo gagal?”
Ully menghela napas panjang. “Gue nggak pernah terpikir soal itu.”
“Well, sebaiknya lo mulai memikirkannya.” Abi menepuk-nepuk lengan Ully. “You deserve better, dear.”
Ully menatap kami berdua. Aku dan Fayra spontan mengangguk.
Abi mengambil salah satu botol minuman dan menyerahkannya pada bartender lain. Kemudian, dia berdiri tepat di depanku. “Dan…ada masalah apa dengan lo, little girl?”
Aku tergeragap dengan pertanyaannya. Di antara kami bertiga, aku selalu dianggap si bungsu—adik kecil yang harus dijaga. Aku memang yang paling muda di antara mereka. Ully 29 tahun, Fayra 28, dan aku 27 tahun. Persahabatan kami dimulai sejak pertama kami menginjak bangku kuliah. Meski berbeda jurusan, kami sepakat tinggal bersama di satu kontrakan. Abimanyu justru kami kenal ketika kami sudah di tingkat akhir, satu-satunya lelaki yang kami ajak tinggal bersama dan kami merasa begitu aman bersamanya.
“Hei, malah ngelamun?” Cubitan Abi di pipiku menyadar kanku dari lamunan.
“Gue?” Aku mengibas-ngibaskan tangan di depan wajah. “Gue sih nggak kenapa-kenapa.”
“Boong lu!!!” seru Abi, Fayra, dan Ully berbarengan.
Ully yang duduk di sebelahku mengulurkan tangan dan menepuk pipiku lembut. “Lo enggak terlalu pintar menyem bunyikannya. Your eyes tell us thousand words.”
Aku berdeham. Tenggorokanku tersekat. Rasanya aku ingin menyimpan rahasia ini sendirian. Tapi bukankah me reka adalah sahabat-sahabatku? Mereka ada di sini untuk mendengarkanku dan berbagi beban bersama.
“I... I.... have an affair.”
Fayra dan Abi menyahut berbarengan.“WHAT?”
“Wow, look at her. She’s not a girl anymore, she’s a woman now,” Ully angkat suara.
Aku menelan ludah.
“Lo punya affair sama siapa, say? Laki orang?” tanya Fayra.
Aku menelan ludah lagi.
“Lakinya siapa?” cecar Abi.
“Lakinya Sandra,” jawabku lirih.
“APAAA!!!?”
“Endes gandes. Gokil tralala trilili. Lo selingkuh sama mantan pacar yang ninggalin lo untuk kawin sama perempuan lain?” Abi menegaskan.
Aku terduduk pasrah. Siap dihakimi oleh ketiga sahabatku.
Ully menggeleng-geleng. Ekspresi kemarahan tampak jelas di wajahnya. “HAH, actually you’re still a girl!”
Fayra menepuk-nepuk pundakku. “Laki-laki di dunia ini ada miliaran, Sayang. Kok lo mau sih selingkuh sama Radit? Jangan bikin sempit dunia lo, dong.”
Pundakku melorot di sandaran kursi. Aku merasa perlu membela diri. “Gue cuma mau balas dendam sama Sandra.”
Abi berdecak gemas. “Ck... ck... ck... Sandra nggak salah apa-apa, Nina. Satu-satunya yang salah itu Radit. But, you have nothing to do with that. You should’ve let it go.”
Aku tertunduk lesu.
Malam merambat naik dengan pasti, tapi bar ini jus tru semakin ramai. Pengunjung menyemut menonton per tunjukan musik live di panggung dan menikmati minuman yang terjaga standar serta kualitasnya. Beberapa set kursi di lantai ini hampir terisi penuh—sebagian diisi oleh eksekutif muda dan beberapa ekspatriat. Tapi, ada juga wajah-wajah muda belia yang sepertinya masih duduk di bangku kuliah. Pandanganku juga tak luput dari beberapa pasangan yang sedang dimabuk asmara dan menganggap seolah dunia milik berdua. Ya, reguklah sebanyak-banyaknya momen yang langka dan tak pernah berlangsung lama itu, seruku dalam hati. Sebelum kalian semua menjadi seperti kami bertiga yang terjebak dalam lingkaran percintaan tak berujung.
Aku mengalihkan pandangan ke Abi. Keletihan mem bayang begitu jelas di wajahnya, tapi hasratnya yang besar untuk mengelola bisnis ini senantiasa memunculkan senyum di wajahnya. Setiap kali pengunjung menyesaki barnya, Abi begitu sigap memberikan instruksi kepada para pegawai agar melayani mereka sekaligus mengamati segala hal yang terjadi dari balik meja bar. Dia memastikan semua orang mendapat pelayanan yang terbaik. Pembeli adalah raja dan pelayanan yang memuaskan adalah trik yang selalu mendorong bisnis Abi untuk bisa merangkul pengunjung lebih banyak lagi. Termasuk bicara dari hati ke hati dengan pengunjung atau pelanggan. Pendidikan kehumasan yang digelutinya selama empat tahun di kampus dulu ternyata begitu tepat dia terapkan di sini.
“Kalian menyedihkan, girls,” tegur Abi sembari meman dangi kami satu per satu.
“Kami tahu,” sahutku, mewakili dua temanku.
“So, apa yang membawa kalian kemari?”
Pertanyaan itu dilontarkan Abi sambil sesekali melayani pelanggan lain.
Kami bertiga bertatapan, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Malam semakin larut, tapi bar justru semakin ramai dan kami yakin pertunjukan musik akan melindungi kami dari para penguping yang akan mendengar cerita konyol kami.
“Jadi, gini. Kami bertiga atas usul Nina pergi ke acara perjodohan gitu deh. Gilanya lagi, lima juta melayang cuma untuk ngeliat om-om berkepala botak dan berperut buncit. Bokis abis tuh agensi mak comblang.” Ully menuding wajahku dengan telunjuknya.
Kontan tawa Abi lepas. “Kok bisa sih kalian kepikiran ke situ?”
Aku merengut. “Please deh, Bi. Nggak usah ngetawain.” “Ya, sebenarnya enggak bokis juga soal kemapanannya.
Tapi, gue sendiri merasa masih bisa nyari yang mapan dan nggak bersantan begitu. Mereka sih lebih cocok jadi bokap gue,” Fayra membelaku.
“Yah, mending diketawain, Say. Daripada dipikirin bikin bete. Gilingan lu bertiga, lima juta bisa buat shopping ke
Singapura, tahu?” Abi berdecak gemas sambil menggoyang-goyangkan jemarinya dengan gemulai.
Kami berpandangan satu sama lain, lalu tawa kami pecah. Tawa Abi sungguh menular. Terkadang kekonyolan hidup me mang harus ditertawakan. Setidaknya hal itu mengingatkan bahwa kita ini manusia. Kenangan memalukan ini juga bisa kami ceritakan kepada anak-cucu nanti. Di suatu masa, tiga perempuan muda dengan karier menyenangkan tapi begitu terpuruk dalam percintaan—pernah menggunakan jasa biro jodoh untuk membantu menyelesaikan masalah tersebut.
Ully turun dari kursinya dan beranjak ke toilet di sisi kiri bar. Fayra menyulut rokok dan sibuk dengan PDA-nya. Aku kembali ke kebiasaanku, memilin rambut, lalu memperhati kan para pemain musik yang begitu larut dalam lagu yang mereka bawakan. Lagu ‘I Still Haven’t Found What I’m Looking For’ milik U2 terasa pas dengan suasana hatiku saat ini.
Kuperhatikan kelima lelaki yang begitu lihai dengan alat musiknya masing-masing. Bagiku, cowok yang bisa main musik itu KEREN! Salah satu hal yang membuatku tidak mudah melupakan Radit adalah karena ada begitu banyak momen yang kami habiskan berdua berkaitan dengan musik. Dia menyanyikan lagu untukku, bahkan dia juga pernah menciptakan lagu khusus yang katanya terinspirasi olehku.
Tapi, dia justru menikahi perempuan lain, bukannya aku. SIALAN!
Lamunanku terpecah ketika salah seorang pemain musik mendatangi kami. Sebagian mata pengunjung bar ini tertuju ke cara jalannya yang jemawa. Aku menebak dia adalah tipe lelaki yang sadar dirinya punya daya tarik yang kuat dan diapun senang memamerkannya, kalau tidak salah, istilahnya alpha male. Buatku, laki-laki seperti itu lebih enak untuk dilihat tapi tidak untuk dimiliki. Dalam beberapa langkah, bisa kulihat sepatu bermerek yang ia kenakan, jin yang begitu pas membungkus kakinya, kaus putih polos yang menunjukkan hasil latihan binaraganya, dan astaga, beberapa titik peluh di wajahnya justru membuatnya terlihat begitu seksi di bawah temaram lampu bar. Matanya—seperti menyimpan sesuatu. Misteri yang menggoda untuk ditelusuri. Dagu dan bagian atas bibirnya ditumbuhi rambut-rambut halus yang semakin menambah kesan kejantanannya.
Awalnya kupikir dia mungkin berminat untuk berkenalan dengan salah satu dari kami—entah aku atau Fayra. Tapi, aku salah besar. Ia hanya melempar senyum kepada kami berdua, lalu menyapa dan mengedipkan mata ke Abi sambil memesan bir. Sebelum meninggalkan kami, aku melihatnya meraih secarik flyer dan bolpoin di atas meja bar, menuliskan sesuatu di atas bagian flyer yang kosong, lalu memberikannya kepada Abi.
Abi menerimanya sembari cengengesan.
“Itu kecengan lo?” tanyaku sambil melihat lelaki itu berlalu.
Fayra menggumam. Matanya berpindah-pindah dari le laki tampan tadi ke Abi. “Ya, ampun sekarang saingan kita nggak cuma cewek, tapi cowok juga.” Embusan rokok Fayra menggumpal di udara.
Aku hanya tertawa kecil.
Setelah memastikan si ganteng kalem tadi kembali ke panggung, aku tidak tahan untuk bertanya kepada Abi.
“Lo kenapa harus jadi gay, sih?”
Abi mengulas senyum. “Yakin mau tahu?”
Aku dan Fayra kompak mengangguk.
“Karena ”
“Karena ?” Kami mengulangnya.
“Karena ada cewek-cewek rempong kayak lo bertiga ini.”
“HUUUUU....” Kami menyorakinya bersamaan sambil melemparinya dengan benda apa pun yang berada di dekat kami. Saat itu Ully sudah kembali dari toilet.
“Abi, please.... Serius, nih.” Aku mencekal lengannya agar berhenti mondar-mandir dan berdiri di depan kami untuk menyelesaikan ceritanya. “Kita sudah bersahabat selama ber tahun-tahun, tapi lo nggak pernah cerita sekalipun kenapa lo jadi gay. Sebenarnya kita bertiga penasaran banget.”
Fayra mengiyakan. “Nothing judgmental, Bi. Just curious.”
Sikap tubuh Abi melunglai. “Ewww, girls. It’s a long long
story. Full of drama.” Sekilas aku dan Fayra bisa melihat mata Abi yang mulai basah.
“Abi, sorry...” Aku mengelus lengannya.
Fayra mencondongkan tubuh dan memandang Abi lekat-lekat. “We promise you, we’ll never talk about this thing again.”
Fayra mengangkat dua jarinya ke udara.
Abi mengerjap-ngerjapkan mata. “That’s fine.” Helaan napas Abi terdengar berat. “Hanya saja, tidak sekarang... tidak di tempat ini.”
Pandangan Abi, memohon pengertian kami.
Aku mengangkat gelas. “Oke, ganti topik. Question of life. What we’re gonna do about our quarter life crisis?”
Fayra dan Ully diam merenung. Sementara Abi hanya me ngocok shaker-nya.
Pertanyaan retoris—pertanyaan yang selalu menjadi mo mok bagi orang sepertiku—di usiaku. Seakan hidup ini sesung guhnya sudah begitu sempurna, namun ada satu kepingan yang membuatnya jadi tidak sempurna. Belum ada seseorang yang bisa digandeng ke penghulu atau altar penikahan. Aku memang bukan artis terkenal, tapi aku merasa aku memiliki segalanya yang dibutuhkan seorang lelaki dariku. But, there is still no wedding ring on my finger. Pernikahan, pernikahan, pernikahan. Satu fase kehidupan yang belum kulewati. Fase yang kupikir akan membawa kebahagiaan tapi bahkan pernikahan Radit begitu jelas memperlihatkan gambaran bahwa pernikahan tidak selalu menjadi sumber kebahagia an. Pernikahan bahkan bisa menjadi sumber masalah baru. Aku melihatnya begitu nyata pada beberapa pengunjung bar ini. Mereka mengenakan cincin kawin, menjalani kehidupan pernikahan entah dengan cara bagaimana sembari meme luk perempuan lain atau perempuan penghibur yang mereka temukan di sini. Oh, mengapa gambaran tentang masa depan untuk urusan khusus yang satu itu tampak begitu buram?
Orang bijak bilang masa depan adalah hasil dari apa yang kita perbuat di masa kini.
So, what am I gonna do right now?
“Eh, taruhan yuk!” Abi tiba-tiba mengajukan tawaran.
“Taruhan apa?” seru kami bebarengan.
Abi mengedipkan matanya nakal. “Taruhan kalau enam bulan dari sekarang lo-lo bisa beresin masalah sama laki lo masing-masing, gue janji gue akan berhenti jadi gay!” “Sounds great!” Ully langsung menanggapi tawaran Abi dengan antusias.
“Terus apa yang lo mau dari kita?” tanya Fayra.
“Lo Fay,” jemari Abi menuding ke arah Fayra. “Lo harus bisa membuat Danu menikahi lo.”
“Kalau nggak?” Fayra menyanggah.
“Don’t waste your time, baby. Masih banyak eligible ba chelor di luar sana yang rela mati buat kawin sama lo.”
Bibir Fayra mengerut. “Lo lebay, ah.”
“I mean it.” Abi menunjukkan mimik serius atas ucapannya. “Kalau bukan lo yang menghargai diri lo sendiri, siapa lagi yang akan melakukannya? Tujuh tahun bukan waktu yang singkat untuk menunggu, Fay. Danu has to marry you or no more waiting. Move on, dear Fayra. Cari laki lain.”
“Baiklah. Meskipun rasanya nggak akan semudah itu.” Wajah Fayra tampak memelas. “Setelah bertahun-tahun gue bersamanya, hubungan keluarga kami sudah dekat, dan dia yang pertama buat gue.”
Ully meremas jemari Fayra yang lalu diikuti olehku dan Abi. “Kita bakal ngebantu lo buat ngelaluin ini bersama-sama.”
“Kita belum selesai, girls.” Abi berdeham dan mengingat kan kami semua bahwa dia belum meminta sesuatu kepada ku dan kepada Ully.
“You, Ully—are such an independent woman. What makes you think you could live with his bad habit? Pernah enggak sih terpikir kalau lo udah terlalu banyak menoleransi Juned sehingga dia selalu bisa menemukan alasan dan cara untuk minta maaf?”
Ully menghela napas. “Dunno, maybe I love him too much.”
“And he hurts you too much, for sure.” Mulut silet Abi mulai beraksi.
Aku dan Fayra mengangguk-angguk. Kami bertiga bersahabat dekat. Saking dekatnya, kami sulit melihat persoalan-persoalan kami secara objektif. Abi terasa tepat berada di antara kami. Dia lebih bisa menggunakan rasionya dibanding kami—tiga perempuan yang sering kali berpijak pada perasaan.
“Apa yang harus gue lakukan?” Ully mendesah putus asa. “Bagaimanapun Juned dan perilakunya, itu bukan urusan lo. Kalau dia ingin bersama lo, dia harus bisa menghargai lo, menghargai cinta, menghargai kesetiaan. Kalau dia nggak bisa memberikan itu semua, dia bukan lelaki yang tepat untuk lo.”
“Tapi Bi, enggak ada manusia yang sempurna di dunia ini,” Ully berkelit.
“Memang nggak ada. Tapi banyak manusia yang baik,” sanggah Abi.
Fayra, Ully, dan aku saling melempar pandangan yang menyiratkan kami sepakat bahwa perkataan Abi itu ada be narnya.
“Satu hal lagi, Ully,” sahut Abi sambil mengangkat jari te lunjuk. “Satu hal yang harus lo ingat. Lo bukan psikolog gagal atau nggak berguna kalau dia enggak juga berubah. It’s not your issue, dear. It’s his issue!” tandas Abi.
“Jadi, kita akan bertaruh apa tentang gue?” Ully menatap kami bertiga.
Fayra dan aku spontan menatap Abi.
“What do you want from me, guys?” ulang Ully.
“Juned harus belajar setia sama lo. Dalam enam bulan ini, dia harus menunjukkan kalau dia bisa setia. Kalau nggak ada perubahan...” Abi menahan kalimatnya lalu menatapku dan Fayra bergantian. “Just leave him and never look back.”
Desahan napas Ully terdengar berat. Disesapnya minumannya perlahan. “Meninggalkan Juned adalah hal yang tidak pernah gue pikirkan, tapi kalian mungkin ada benarnya. Sepertinya gue harus mulai memikirkannya.”
“Yeah, setuju!” Aku dan Fayra menyahut bebarengan.
“Sekarang giliran Nina.” Ully angkat suara.
Abi mencondongkan tubuh saat berbicara padaku. “Obviously, for you dear. Leave him. No matter what he tells you. Dia masa lalu.”
Aku mengangguk-angguk.
“I’ll do it. Gue akan meninggalkan dia,” janjiku kepada mereka dan kepada diriku sendiri.
Abi menyentuh lenganku lembut. “Forgive and forget. Gue tahu itu susah, tapi bukannya enggak mungkin dilakukan.”
“Get it, Boss,” sahutku sambil tersenyum.
Tak lama setelah bicara dengan kami, Abi membuka botol anggur dan menuangkannya ke gelas kami bertiga, lalu ke ge lasnya sendiri.
“Sekarang, mari bersulang.”
Abi mengangkat gelasnya yang diikuti oleh kami bertiga. “FOR FUN. For having a great love and life.”
“YEAH!” Kami bersorak lalu mengangkat gelas dan menyahut bersamaan, “CHEERS!”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar